Yang Telah Lama Ku Tunggu

Wanita itu terlihat sangat cantik. Dia istriku ….

Mengenakan gamis berwarna biru muda dipadu kerudung segi empat dengan warna senada. Senyum merekah tak kunjung lepas dari bibirnya. Dia pasti bahagia, tentunya. Hari ini, dia akan bertemu seseorang yang berarti baginya. Cinta pertamanya.

Kupikir, dia sudah melupakannya. Namun, ternyata cinta itu masih ada. Kupikir, kehadiranku telah menggantikan dia di hatinya. Kesungguh-sungguhanku membuktikan cinta dan setia ternyata tak berarti apa-apa.Aku memang hanya pengganti. Sungguh, aku tahu diri. Namun, sulit rasanya untuk menahan semua rasa ini.

Aku melihat dia ‘terbang’ ke sana kemari. Menyiapkan berbagai macam hal yang akan dibawanya bertemu dengan cinta pertamanya. Aku hanya bisa menatap dengan perasaan kalah.

“Mas, serius gak mau ikut sama aku ke rumah mama?” tanya Adinda, istriku.

Aku menggeleng pelan. “Masih ada yang harus dikerjain. Nanti kalau kamu udah selesai di sana, telepon aku aja. Biar aku jemput.”

Aku berharap, sungguh berharap. Dia akan benar-benar meneleponku.

“Mas gak mau ketemu sama bang Rama? Gak kangen?”

Hatiku tercubit mendengar nama laki-laki itu disebut. Laki-laki yang menghabiskan masa kecil dan masa remajanya bersamaku, dia sahabatku, dan dia juga yang menjadi cinta pertama istriku.

Adinda mencintainya begitu dalam. Aku yang menjadi saksi bagaimana cinta itu begitu besarnya. Aku yang menemaninya saat ia menangis karena luka yang ditimbulkan oleh cinta itu.

Mereka berstatus saudara sepupu. Cinta memang bisa hinggap di mana saja. Bisa masuk merasuk ke hati siapa saja. Sejak beranjak remaja, Adinda mencintai sahabatku, yang tak lain adalah sepupunya, yang melihatnya hanya sebagai seorang adik, tak pernah lebih dari itu.

Rama telah memiliki seorang kekasih saat Adinda jatuh cinta. Laki-laki itu tahu perasaan adiknya, namun, tak bisa melakukan apa-apa karena tak memiliki perasaan yang sama. Dia selalu memintaku menggantikan tempatnya, kapan dan di mana pun Adinda membutuhkannya. Menemani dan memberi penghiburan, ketika gadis itu terluka dan menangis.

Semakin sering aku menghabiskan waktu bersama Adinda, menemaninya atas permintaan Rama, semakin sering pula lah, cinta meresap masuk ke dalam hatiku, sedikit demi sedikit. Selama bertahun-tahun.

“Aku harus kasih kado apa ya, Mas?” tanya Adinda.

Aku mengernyit. Haruskah memberinya kado? Dan, haruskah dia bertanya padaku? Itu sangat kejam.

Mereka memang sudah lama tak berjumpa. Sejak Rama meneruskan studinya ke negeri kangguru, Australia. Mungkinkah kado itu akan menjadi simbol kembalinya sang cinta pertama bagi Adinda?

“Mas?” Adinda menggoyang lenganku. Sepertinya dia heran karena aku tak kunjung merespon kata-katanya.

“Kamu kok diem aja?” Istriku itu bertanya seraya mengusap pipi dan dahiku. “Sakit?”

Aku menggeleng pelan.

“Lemes banget sih? Kenapa?” Ia bertanya lagi.

“Gak apa-apa, cuma lagi banyak yang dipikirin aja. Soal kerjaan.”Adinda manggut-manggut mendengar jawabanku. “Apa aku gak usah ke rumah mama aja?” tanya wanita itu. Lantas, ia duduk di sampingku. “Kamu kayaknya mau sakit.”

“Aku gak apa-apa. Kamu datang aja, nanti Om Rahman sama tante Siska pasti nanyain kamu. Kasihan. mereka udah jauh-jauh datang ke Jakarta, tapi gak bisa nemuin kamu.”

Om Rahman dan tante Siska yang kusebutkan adalah orang tua Rama. Ibu kandung Rama adalah saudara perempuan ibu mertuaku. Hanya hari ini mereka akan ada di Jakarta. Mereka juga mengenalku, sebagai sahabat baik dari putera mereka.

“Ya, udah. Mas gak usah kerja, istirahat aja dulu.” Adinda meraih tanganku dan menciumnya. “Aku berangkat dulu ya ….”

“Iya.”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Aku menjawab salam seraya menahan perih di hati. Sejujurnya, ingin sekali aku melarang Adinda pergi. Aku mencintainya, dan tak sudi ia bertemu dengan cinta pertamanya lagi. Namun, aku tak sanggup membuat larangan itu. Dia terlihat sangat bahagia.

Pergilah, Adinda! Temuilah dia … aku siap, jika hari ini harus kehilanganmu. Mungkin, cintaku tak cukup kuat untuk bisa menjadi perisai bagimu dalam menahan pesonanya.

Aku menikahi Adinda satu tahun setelah Rama meninggalkan Indonesia. Kunyatakan cinta padanya. Kuminta ia untuk memberi kesempatan, untuk membuktikan bahwa cinta yang kumiliki juga berharga dan aku bisa membuatnya bahagia.

Kini, setelah empat tahun pernikahan kami, Rama tiba-tiba saja kembali. Aku baru menyadari, ternyata selama ini aku salah. Semuanya terasa sia-sia saja. Kesungguhanku, komitmenku, kesetiaanku, dan kasih sayangku, entah apa maknanya bagi Adinda. Aku terlalu takut untuk bertanya. Aku takut, jawaban yang kuterima tak sesuai dengan harapanku.

Beberapa jam setelah kepergiannya ke rumah mertuaku, Adinda sempat menelepon beberapa kali. Aku tidak mengangkatnya. Entah mengapa aku begitu takut. Aku takut mendengar tawa riangnya seraya mengabarkan bahagia atas pertemuannya dengan Rama. Aku pengecut? Memang. Aku mengakuinya.

Sore hari menjelang waktu Maghrib, Adinda mengirim pesan.[Mas, gak apa-apa ‘kan? Kok aku telepon gak diangkat?]Aku menghela nafas setelah membaca pesannya. Benarkah dia mengkhawatirkanku? Bukankah dia sedang larut dalam kebahagiaan?

Ah tidak … aku paling tidak suka membuatnya khawatir, apalagi bersedih. Akhirnya, kuputuskan untuk menyusul Adinda ke rumah mertuaku. Apapun yang akan kuhadapi nanti di sana, aku akan dengan berani menghadapinya..

“Aldi!” Teriakan seseorang menyambut kedatanganku di rumah bercat hijau itu. Rama, sahabatku itu lah yang baru saja memanggil namaku.

“Lu kemana aja, Bro? Kok baru datang?” tanyanya. Laki-laki itu memeluk dan menepuk-nepuk pundakku. “Gue kangen banget sama Lu.”

Sejujurnya, aku juga merindukan Rama. Aku bahagia bisa bertemu dengannya lagi. Rama adalah sahabat yang baik. Dia memperlakukanku layaknya saudara. Dia tak pernah merasa risi berteman denganku yang berasal dari kalangan bawah dengan status yatim piatu sejak masih kanak-kanak. Aku tahu, dia menyayangiku, begitu juga dengan ayah dan ibunya. Mereka memang orang-orang baik. Keluarga mertuaku adalah kalangan terpelajar yang tak pernah melihat seseorang berdasar status sosial atau status ekonomi. Mereka penuh penghargaan terhadap siapapun. Nilai-nilai itu diturunkan kepada anak-anak mereka, kepada Rama dan juga Adinda.

“Itu siapa, Mas?” Suara seorang wanita menyela pertemuan kami.Rama melepas pelukannya.

“Ini Aldi,” katanya pada wanita itu.

“Aldi? Teman yang sering kamu ceritain itu?” Rama mengangguk mendengar pertanyaan lanjutan si wanita.

Dia tersenyum, lantas berkata, “Aldi ini suaminya Adinda. Dia cinta mati sama Adinda.”

Terdengar seperti ejekan bagiku. Kulemparkan tatapan jengah pada laki-laki itu.

Rama tak mengindahkan tatapan jengahku. Dia berkata, “Gue gak nyangka, dari sahabat bisa jadi saudara ipar, gue ikut bahagia atas pernikahan Lu sama Adinda.” Rama kembali memelukku. ”Gue bahagia banget. Lu emang pantas jadi pendamping Adinda, pokoknya, Lu harus bahagia, Aldi.” Rama mengatakan semuanya dengan mata berkaca-kaca.

Ada apa ini? Kenapa sepertinya yang terjadi tidak sesuai dengan dugaanku?

“Eh, sorry. Lupa,” kata Rama. “Kenalin, ini Rani, calon istriku.” Laki-laki itu memperkenalkan wanita yang sejak tadi ada bersama kami.

Apa? Calon istri? Jadi ….

“Kita ketemu di Australia. Sorry belum sempet gue certain sama Lu. Makanya, sekarang kita pulang ke Indonesia, mau ngadain pernikahan di sini. Karena bokap nyokap gue harus balik lagi ke Aussie besok, jadi, mereka bakal diwakilin sama mama papanya Dinda.” Rama tersenyum bahagia.

Sedangkan aku, tercengang dengan mulut menganga.

“Biasa aja, dong, Bro!” kata Rama. “Emang Lu doang yang bisa nikah? Gue juga lah!” Ia terkekeh seraya menonjok pelan lenganku. “Gue gak nyangka, Lu bisa bikin si Dinda klepek-klepek sama Lu. Pake pelet apa sih?”

“Klepek-klepek?” tanyaku tak mengerti.

“Iya, klepek-klepek, masa gak ngerti?”

“Maksudnya gimana? Dia cinta sama aku gitu?”

Rama mengernyit, tak lama tertawa. “Lu kenapa sih?” tanyanya. Lalu, ia nampak teringat akan sesuatu. “Eh, katanya Lu sakit ya? Tadi si Dinda gak tenang banget. Dia bilang Lu sakit, makanya gak ikut datang sama dia.”

“Menurut kamu Adinda cinta sama aku?”

Laki-laki itu menatapku heran. Lalu, beralih menatap calon istrinya, lalu menatapku lagi. “Ya, iya lah. Kelihatan kok. Masa Lu gak tahu?!”

Aku menggeleng pelan.

Rama tertawa. “Aneh,” katanya.

Ya, memang, ini aneh. Mengapa dia berkata bahwa Adinda mencintaiku?

“Bukannya dia cintanya sama kamu?” tanyaku.

Rama kembali tertawa. “Ya, elah, Bro! Itu udah lama kali. Cuma cinta monyet doang. Si Dinda malah ketawa-tawa waktu nyokapnya cerita soal dia yang ngejar-ngejar gue!”

Aku menunjuk diriku sendiri. “Jadi, sekarang dia cintanya sama aku?” tanyaku lagi. Hanya ingin memastikan.

“Iya …, menurut gue sih gitu. Lu kenapa gak percaya diri banget sih?” Rama bertanya dengan tatapan mengejek.

Aku tidak peduli dia menatapku seperti itu. “Dimana dia sekarang?” tanyaku tergesa.

Rama mengernyit. “Dia? Siapa?”

“Adinda!” jawabku geram. Rama tertawa. Aku yakin, dia pura-pura tak mengerti.

“Dia udah pulang.” Rina menjawab pertanyaanku. “Tadi, belum lama. Katanya dia khawatir sama kamu. Teleponnya gak diangkat-angkat.”

Benar, bodohnya aku. Bergegas aku pergi dari tempat itu. Aku bahkan tak menghiraukan ibu mertua yang memanggil dan menyuruhku masuk ke kediaman mereka.

Aku berlari kencang ke arah rumahku, istanaku, di mana di sana ada seorang bidadari, yang kemungkinan sedang mengkhawatirkan diriku. Bidadari itu, aku yakin sekarang, bahwa dia mencintaiku. Entah sejak kapan cintaku tak lagi bertepuk sebelah tangan. Entah sejak kapan Adinda membuka hatinya untukku, hanya untukku.

“Mas!” Dinda memanggilku. “Kamu dari mana sih?” Wanitaku itu terlihat sangat khawatir.

Aku langsung saja memeluknya. Saat aku datang, ia tengah bersiap masuk ke dalam rumah.

“Kamu kenapa, Mas?” Adinda mengelus punggungku. “Sakit?”

Aku menggeleng pelan. “Gak apa-apa,” jawabku dengan suara bergetar. Isak tangis keluar tak tertahankan.

“Kamu kok nangis, Mas? Kenapa?” Adinda tak berhenti bertanya.

“Aku bahagia,” jawabku.

“Hah?!”

Aku melepas pelukan, lalu menatap lurus wajahnya. “Aku nangis karena bahagia. Aku cinta sama kamu.” Kupeluk dia lagi.

“Aku juga cinta sama Mas.”

Ya, Tuhan … kata-kata itu telah lama aku tunggu. Akhirnya, aku mendengarnya hari ini. Aku bahagia sekali. Aku berjanji, tak akan salah memahami lagi.

Selesai.

Salam sayang.

Ummu_Hafsah

Keranjang Belanja